Jakarta — Sebanyak 28 delegasi Sukarelawan Pembimbing Kemasyarakatan asal Jepang atau Hogoshi Japan melakukan kunjungan studi banding ke Balai Pemasyarakatan Kelas I Jakarta Barat (Bapas Jakbar) di Palmerah, Jakarta Barat, pada Jumat, (17/4). Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pertukaran pengalaman internasional di bidang pembimbingan kemasyarakatan dan program reintegrasi sosial bagi klien pemasyarakatan.
Klien Pemasyarakatan merupakan semua orang (dewasa maupun anak) yang menjalani bimbingan, pendampingan, pengawasan, atau pembinaan dari Bapas di luar Rumah Tahanan Negara (Rutan), Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), atau LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak). Mereka biasanya tengah menjalani program reintegrasi sosial seperti asimilasi atau pembebasan bersyarat, atau anak yang sedang berkonflik dengan hukum hingga menjalani pidana alternatif selain penjara.
Kepala Bapas Jakarta Barat, Sri Susilarti, menyambut hangat kedatangan delegasi Hogoshi dan mengajak mereka mengelilingi fasilitas pembimbingan yang tersedia. Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan berbagai program unggulan yang dirancang untuk membekali klien pemasyarakatan dengan keterampilan hidup yang dapat langsung diterapkan setelah bebas.
"Mereka ingin melihat metode pembimbingan di Bapas ini seperti apa. Tadi kita berkeliling melihat tempat pembimbingan klien," ujar Sri Susilarti.

Bapas Jakarta Barat memperkenalkan sejumlah program unggulan yang berfokus pada pembentukan kemandirian ekonomi klien pemasyarakatan, antara lain,
- Pelatihan Hidroponik: Klien dilatih menanam sayuran dengan teknik hidroponik yang sesuai untuk wilayah perkotaan seperti Jakarta. Program ini dirancang sebagai bekal kemandirian ekonomi saat klien kembali ke masyarakat.
- Budidaya Lele Metode Ember: Program beternak lele menggunakan media ember sebagai alternatif usaha sederhana berbiaya rendah yang dapat dilakukan di lahan terbatas.
- Aquaponik Budidaya Ikan Nila: Program ini merupakan bagian dari pengembangan sistem usaha terpadu yang menggabungkan pertanian dan perikanan secara berkelanjutan.
"Klien kami dilatih menanam hidroponik sebagai bekal kehidupan mandiri. Harapannya, ini bisa menjadi modal saat mereka kembali ke masyarakat," jelas Sri Susilarti.
Program-program tersebut merupakan bagian dari sinergi yang dibangun Bapas Jakarta Barat bersama pemerintah daerah, kelompok masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan, sebagai respons atas keterbatasan anggaran yang mendorong inovasi kolaboratif.

Direktur Eksekutif Federasi Hogoshi Jepang, Shoji Imafuku, menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan yang diterapkan Bapas Jakarta Barat. Menurutnya, program pembinaan yang dijalankan tidak sekadar memberikan kecakapan teknis, melainkan juga berdampak positif terhadap kepercayaan diri dan harga diri para klien.
"Pemberian keterampilan ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga meningkatkan nilai diri mereka untuk kembali ke masyarakat. Kami melihat bagaimana para klien diajarkan berbagai keterampilan tangan dan diberikan bantuan nyata untuk membantu mereka mandiri setelah proses hukumnya selesai. Itu hal yang luar biasa," ungkap Shoji Imafuku.
Kunjungan ini juga menjadi sarana bagi pihak Bapas Jakarta Barat untuk mempelajari model kesukarelawanan Jepang, yaitu pembimbing kemasyarakatan digerakkan dari kalangan masyarakat yang mapan secara ekonomi dan ditunjuk langsung oleh Menteri Kehakiman Jepang. Sri Susilarti berharap semangat sukarela serupa dapat berkembang di Indonesia ke depannya.
Perlu diketahui, Hogoshi merupakan sukarelawan pembimbing kemasyarakatan di Jepang yang ditunjuk langsung oleh Menteri Kehakiman. Organisasi ini bertugas membantu proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial narapidana maupun pelaku kejahatan anak, dengan mengedepankan partisipasi aktif masyarakat sipil dalam sistem pemasyarakatan.
Kunjungan studi banding ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama bilateral dan mendorong pertukaran pengetahuan antara Indonesia dan Jepang dalam menciptakan sistem pembimbingan kemasyarakatan yang lebih humanis, progresif, dan efektif demi terwujudnya reintegrasi sosial yang bermartabat.