JAKARTA – Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas IIA Jakarta, Warga Binaan menjalani hari-harinya dengan belajar hal baru yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan. Ada yang kini terbiasa merawat ayam petelur sejak pagi, ada pula yang tekun mengoperasikan mesin jahit untuk memproduksi pakaian dan seragam. Melalui program pembinaan kemandirian, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan kerja, tetapi juga membangun kembali rasa percaya diri dan harapan untuk memulai kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti.
Kepala Lapas Narkotika Jakarta, Syarpani, menjelaskan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan. Kegiatan pembinaan kemandirian di Lapas Narkotika Jakarta ini juga merupakan bagian dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam penguatan pembinaan dan pemberdayaan Warga Binaan agar lebih produktif dan siap kembali ke masyarakat. Program ini diharapkan dapat mendukung terciptanya reintegrasi sosial yang lebih efektif dan berkelanjutan.
“Lapas adalah tempat pembinaan. Salah satunya pembinaan kemandirian, bagaimana setelah mereka bebas nanti ada yang menampung dengan kita bermitra, sehingga diharapkan Warga Binaan itu berdaya setelah bebas,” ujar Syarpani.

Program peternakan ayam petelur di Lapas Narkotika Jakarta dilaksanakan bekerja sama dengan PT Pancanaka Nusantara Jaya. Melalui kegiatan tersebut, Warga Binaan dilatih mengelola peternakan sekaligus menanamkan nilai tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama.
Salah satu Warga Binaan berinisial MT mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama mengikuti pembinaan tersebut. “Di balik ini semua saya dapat pembelajaran yang sangat membuat saya bangga. Kami diajarkan untuk bertanggung jawab, jujur, loyalitas, dan bekerja sama dengan baik,” ungkap MT di sela kegiatannya merawat ayam petelur, Senin (21/5/2026).
Ia mengaku awalnya merasa malas menjalani kegiatan tersebut, namun seiring waktu mulai menikmati pekerjaannya dan berharap dapat melanjutkan usaha peternakan setelah bebas nanti. “Kalau ada rezekinya, insyaAllah ingin beternak seperti ini,” katanya.
Selain bidang peternakan, Lapas Narkotika Jakarta juga mengembangkan pembinaan di bidang garmen melalui kerja sama dengan Yayasan Qudwah Al Barosiyah dan PT Sentosa Garmindo Pratama. Dalam program ini, Warga Binaan mendapatkan pelatihan menjahit dan produksi pakaian dengan bahan serta pendampingan yang disediakan pihak ketiga.
MF, salah satu peserta pembinaan garmen, mengaku memilih bidang tersebut karena ingin mempelajari keterampilan baru. “Mungkin yang dulunya saya dikenal sebagai penjahat, sekarang jadi penjahit,” ujarnya.

Menurutnya, proses belajar menjahit tidak mudah karena dimulai dari nol. Namun pengalaman tersebut justru menjadi pelajaran berharga selama menjalani pembinaan di dalam Lapas.
Program garmen Lapas Narkotika Jakarta saat ini telah menerima berbagai pesanan pakaian dan seragam, termasuk pesanan seragam Warga Binaan dari Lapas dan Rutan berbagai daerah serta sejumlah perusahaan swasta.
Selain mendapatkan keterampilan kerja, para Warga Binaan juga memperoleh premi dari hasil kegiatan produksi yang dapat menjadi tabungan dan bekal setelah bebas nanti. Melalui program pembinaan kemandirian ini, Lapas Narkotika Jakarta berharap Warga Binaan dapat kembali ke masyarakat dengan kemampuan dan semangat baru untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. (prv)