Toba - Warga Binaan dari Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Balige turut serta dalam kegiatan gotong royong bersama masyarakat Dusun Tambunan, Desa Lumban Gaol, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Kamis (17/4). Kegiatan ini bertujuan bukan hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan antara Pemasyarakatan dan masyarakat.
Kegiatan sosial ini difokuskan pada pemberantasan hama tikus yang telah menyebabkan kerusakan serius di area persawahan warga. Tikus sawah menjadi ancaman nyata terhadap hasil panen, khususnya tanaman padi yang menjadi komoditas utama masyarakat setempat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang dirancang oleh Rutan Balige bekerja sama dengan Pemerintah Desa Lumban Gaol dan kelompok tani lokal. Tujuannya bukan hanya untuk membantu masyarakat menghadapi ancaman hama pertanian, tetapi juga sebagai bentuk nyata dari reintegrasi sosial bagi Warga Binaan.
Kepala Rutan Balige, David Nicolas, menjelaskan bahwa keterlibatan Warga Binaan dalam aktivitas ini adalah bagian dari pendekatan pemasyarakatan yang humanis dan edukatif. “Kami ingin menanamkan nilai-nilai gotong royong, tanggung jawab sosial, dan kerja sama di tengah-tengah warga binaan. Partisipasi aktif mereka dalam kegiatan seperti ini diharapkan dapat mempersiapkan mereka untuk kembali hidup bermasyarakat dengan bekal mental dan moral yang lebih baik,” ujar David.
Masyarakat Dusun Tambunan menyambut baik kegiatan tersebut. Kehadiran para Warga Binaan dinilai sangat membantu dalam mempercepat penanganan serangan hama. Beberapa warga menyampaikan bahwa gotong royong ini tidak hanya menyelesaikan persoalan pertanian, tetapi juga menjadi jembatan komunikasi dan kolaborasi yang hangat antara warga dan pihak pemasyarakatan.
Salah satu Warga Binaan yang turut serta dalam kegiatan tersebut mengungkapkan rasa syukurnya karena diberi kesempatan untuk ikut berkontribusi langsung kepada masyarakat. “Kami merasa dipercaya, dihargai, dan ini memberi kami semangat untuk terus memperbaiki diri,” ungkapnya.
Kegiatan gotong royong ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi sosial yang berkelanjutan. Selain meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan ini membuka ruang pembelajaran bagi Warga Binaan untuk lebih aktif, produktif, dan siap kembali berbaur dalam kehidupan masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.
Dengan pendekatan yang inklusif dan humanis, pemasyarakatan kini bukan lagi sekadar proses pembinaan di balik tembok tahanan, tetapi juga menjadi jembatan penghubung menuju kehidupan sosial yang lebih baik dan produktif.
