“Di balik setiap pasal dan paraf, ada doa yang tak terdengar.”
Memoar ini menghidupkan malam-malam sunyi saat fondasi sebuah kementerian baru dirancang bukan dengan ambisi, melainkan dengan ketekunan dan doa.
Arsitek Transisi menyingkap perjalanan Asep Kurnia sebagai seorang pemimpin yang menyusun masa depan kelembagaan dari ruang kerja yang tenang, dengan tangan yang memegang nilai, bukan sekadar pena.
Ia bukan hanya Sekretaris Jenderal, tapi penyangga sunyi dari bangunan besar bernama tanggung jawab. Di balik rapat yang panjang dan keputusan yang berat, ia tetap manusia biasa yang rindu pulang, yang menemukan kekuatan dari senyum keluarga, dan yang percaya bahwa cinta di rumah adalah sumber energi bagi setiap kebijakan yang lahir dengan hati.
Buku Arsitek Transisi : Memoar Sekretaris Jenderal Mengawal Transformasi Kelembagaan dapat diakses dan diunduh melalui tautan berikut.
