Garut — Guru Besar Kriminologi dari Universitas Indonesia (UI), Profesor Adrianus Meliala, menyatakan kekagumannya atas berbagai program inovatif yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut, Minggu (13/7). Dalam kunjungan studinya yang berfokus pada penologi atau studi tentang penghukuman, Prof. Adrianus menyampaikan bahwa Lapas Garut mampu menyuguhkan terobosan yang tidak umum ditemukan di lapas-lapas lain di Indonesia.
“Dengan izin dari pimpinan dan Ditjen Pemasyarakatan, saya sering mengunjungi lapas sebagai bagian dari studi saya tentang pemasyarakatan,” ujarnya usai berkunjung ke Lapas Kelas IIA Garut.

Beberapa program yang ia soroti meliputi peternakan domba, Ayam, pembibitan lalat maggot, budidaya ikan lele, pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk eksport serta pemanfaatan lahan tidur untuk kegiatan produktif. Ia menilai pendekatan tersebut sebagai bentuk kemajuan konkret dari fungsi pemasyarakatan yang selama ini dinilai terlalu administratif dan kurang menyentuh pemberdayaan warga binaan.
“Hal-hal seperti pelatihan kopi sudah mulai banyak diadopsi lapas lain, tetapi peternakan domba, maggot, hingga lahan tidur yang diolah produktif, itu belum menjadi hal lazim. Lapas Garut menjadi pengecualian dalam arti positif,” ujar Prof. Adrianus.
Sebelumnya, Prof. Adrianus menyebutkan bahwa beberapa tantangan masih ditemukan di Lapas di Indonesia, seperti kerusuhan, perkelahian, dan kelebihan kapasitas. Masalah-masalah tersebut akhirnya menimbulkan citra buruk di masyarakat. Prof. Adrianus pun kerap mengunjungi lapas dan rutan untuk memberi dukungan kepada petugas maupun warga binaan.

Ia menambahkan bahwa jika hanya menjalankan tugas pokok dan fungsi (tusi) secara normatif tanpa inovasi, setiap Unit Pelaksana Teknis (UPT) pemasyarakatan akan sulit menjawab tantangan keterbatasan anggaran dan problem klasik di lapas. “Terobosan seperti ini diperlukan untuk membebaskan kita dari pola lama yang stagnan,” katanya.
Kunjungan Prof. Adrianus pun menjadi bukti bahwa akademisi memiliki peran dalam memvalidasi praktik-praktik terbaik di lapangan. Ia berharap pengalaman ini menjadi inspirasi bagi lapas lain untuk berani keluar dari zona nyaman dan menghadirkan pendekatan baru dalam proses pemasyarakatan. (mri)