Ambon – Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Ambon terus menjalankan program pembinaan kemandirian melalui budidaya kacang panjang dengan jumlah tanaman yang kini mencapai 250 pohon, Selasa (27/5). Saat ini, tanaman tersebut berada dalam tahap perawatan intensif dengan panen besar yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Juni 2025. Hasil panen diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan internal, tetapi juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan masyarakat sekitar.
Program ini merupakan bagian dari akselerasi kebijakan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, yang berfokus pada pemberdayaan warga binaan melalui sektor produktif, termasuk pertanian. Selain itu, inisiatif ini sejalan dengan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, yang mengutamakan swasembada pangan sebagai pilar kemandirian bangsa.
Kepala Lapas Ambon, Herliadi, menegaskan bahwa program ini memiliki peran strategis dalam membangun karakter warga binaan sekaligus memperkuat ketahanan pangan. “Saat ini, 250 pohon kacang panjang tengah dalam perawatan intensif. Kami memastikan tanaman mendapatkan perlakuan optimal agar panen nanti berhasil maksimal. Lebih dari itu, warga binaan juga belajar bahwa kerja keras mereka memiliki nilai nyata, baik bagi diri sendiri maupun masyarakat luas,” ujarnya.
Kepala Subseksi Sarana Kerja, Berti Supusepa, turut mengapresiasi perkembangan program ini. “Warga binaan kini sudah memahami seluruh proses bertani, mulai dari pembibitan hingga panen. Mereka semakin mandiri dalam mengelola tanaman dan memastikan pertumbuhannya tetap optimal. Ini menjadi keterampilan berharga yang dapat mereka manfaatkan setelah bebas nanti,” katanya.
Proses perawatan tanaman kacang panjang melibatkan berbagai tahapan penting, seperti pembersihan lahan, penyiangan gulma, pemupukan, serta penyiraman secara terjadwal. Lahan yang digunakan merupakan area kosong di luar lingkungan Lapas Ambon yang telah diolah menjadi tanah subur. Setiap langkah dalam perawatan dilakukan di bawah pengawasan petugas bimbingan kerja, sehingga tanaman tumbuh optimal dan terhindar dari serangan hama.
Selain aspek teknis, program ini juga menjadi wadah bagi warga binaan untuk mempelajari nilai-nilai disiplin, kerja sama, dan tanggung jawab. Mereka dilatih dalam pemilihan bibit unggul, teknik bertani yang efektif, serta cara mengelola hasil panen dengan baik. Tidak hanya menjadi kegiatan produktif, program ini juga memberikan manfaat psikologis, membantu warga binaan tetap aktif dan fokus pada kegiatan yang membangun masa depan mereka.
Komitmen dalam menjalankan program pembinaan ini terus diperkuat dengan tinjauan rutin oleh Kepala Lapas Ambon untuk memastikan efektivitas metode perawatan yang diterapkan. Dengan adanya program ini, Lapas Ambon berharap dapat terus mengembangkan sektor pertanian, memberikan manfaat luas bagi warga binaan serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan masyarakat di sekitarnya.
Program ini menjadi bukti bahwa pembinaan bukan hanya tentang rehabilitasi, tetapi juga tentang menciptakan peluang dan harapan baru bagi warga binaan agar mereka memiliki kehidupan yang lebih baik setelah masa pemasyarakatan.
