Sragen — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sragen kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung proses reintegrasi sosial Warga Binaan melalui program pembinaan kepribadian yang dilaksanakan selama dua hari pada Senin (24/8) dan Selasa (26/8). Kegiatan ini diikuti oleh delapan orang Warga Binaan yang tengah mengajukan program Pembebasan Bersyarat (PB) dengan melibatkan langsung keluarga sebagai pihak penjamin.
Kepala Lapas Sragen, Mohamad Maolana menjelaskan Warga Binaan dan keluarga akan mengikuti sesi wawancara dan pendampingan psikologis yang bertujuan untuk mempersiapkan mental dan emosional mereka dalam menghadapi proses kembali ke masyarakat. Proses pembinaan ini pun bekerja sama dengan tim eksper dari Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
“Kami menyadari bahwa keberhasilan reintegrasi sosial tidak hanya bergantung pada kesiapan individu Warga Binaan, tetapi juga pada peran serta dan dukungan keluarga. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dalam program pembinaan menjadi sangat penting,” ungkap Maolana.
Lebih lanjut, ia juga mengapresiasi dukungan dari pihak akademisi, khususnya Fakultas Psikologi UMS, yang telah turut berkontribusi dalam memberikan pendekatan profesional dan ilmiah dalam proses pendampingan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Psikologi UMS atas kolaborasi yang sangat berarti ini. Pendekatan psikologis yang mereka berikan dapat membantu Warga Binaan memahami dan mengelola emosinya, sekaligus membekali keluarga agar lebih siap mendampingi proses pemulihan kembali Warga Binaan di tengah masyarakat,” jelasnya.
Maolana berharap dapat terus mengembangkan metode pembinaan yang lebih partisipatif dan kolaboratif, baik dengan akademisi, masyarakat, maupun keluarga Warga Binaan. Hal ini sejalan dengan konsep reintegrasi sosial yang menjadi filosofi dasar Pemasyarakatan, yaitu pemulihan kembali kesatuan hidup, kehidupan, dan penghidupan Warga Binaan.